Showing posts with label Elektronika. Show all posts
Showing posts with label Elektronika. Show all posts

Sunday, July 8, 2012

Skema Trafik Light Sederhana

Kita pasti sering atau bahkan setiap hari ketemu dengan lampu trafik light di jalan raya buat yang sehari harinya naik motor atau mobil. Lampu Trafik light adalah lampu pengatur lalu lintas yang terdiri dari 3 lampu yang berwarna merah. kuning dan hijau warna merah artinya semua pengendara harus berhenti , kuning artinya semua pengendara bersiap untuk berjalan atau siap siap berhenti , warna hijau artinya semua harus berjalan.

Pada kesempatan kali ini saya akan memberikan sebuah skema elektronika trafik light sederhana , gambar

Skemanya ada di bawah ini

Skema trafiq light sederhana

Layout PCB


 Jika sudah ada Komponenya .

Sunday, September 26, 2010

Remote Control Ultrasonic

Remote Control ini bekerja dengan menerapkan bunyi ultrasonic , jarak yang dapat di jangkau adalah 10 meter , kalau di rasa kurang jauh kita dapat mengakalinya agar di dapat jangkauan yang lebih jauh lagi . Jika kita menggunakanya dalam jarak dekat maka kita tidak perlu  mengarahkan ke penerima .
Jika di kombinasikan dengan satuan sakelar jaringan listrik maka daya sebesar 300 watt akan dapat di kendalikan dari jarak jauh dengan alat ini . Cara kerjanya hanya sederhana saja yaitu jika tombol di tekan maka peralatan akan di hidupkan dan jika tombol di tekan lagi maka peralatan akan di matikan. Peralatan ini bekerja pada frekwensi 42 Khz .

Pada saat tombol transmitter di tekan maka multivibrator tak stabil akan bergetar pada frekwensi 42 khz , arus bolak balik di ubah menjadi bunyi di dalam pengeras suara , multi vibrator ini harus di setel sehingga menghasilkan frekwensi 42 khz .

Untuk rangkaian penerimanya sedikit lebih rumit, unsur penerimanya menggunakan sejenis mikrofon yang akan mengubah getaran bunyi yang berasal dari pengirim menjadi arus bolak balik.

Sunday, August 22, 2010

Membuat Sendiri Voltmeter AC

Voltmeter AC berguna untuk mengetahui atau mengukur tegangan listrik AC ( listrik PLN ). Rangkaiannya sederhana saja hanya membutuhkan sebuah IC dan beberapa komponen yang mudah di dapatkan . Biasanya tegangan listrik yang ada di rumah kita tidak stabil secara teori seharusnya tegangan listrik nya yaitu 220 Volt tetapi faktanya setelah di ukur dengan Voltmeter AC ternyata lebih rendah dari 220 Volt. Hal ini biasanya terjadi pada sore atau malam hari, saat semua orang menggunakan peralatan listrik. Jika listrik di rumah sedang tidak stabil maka hal ini akan mengakibatkan peralatan lisrik di rumah menjadi cepat rusak , terutama peralatan yang sangat peka terhadap tegangan listrik seperti Komputer, Televisi dll.

Untuk membuat Volmeter AC silahkan lihat diagram skemanya di bawah ini.
D1 – D4 berfungsi sebagai penyearah gelombang penuh ( full Wave ) sedangkan D5 berfungsi sebagai pengaman terhadap VU meter. Tegangan AC masuk ke Input rangkaian dan melewati C1 jika ada arus DC nya maka arus DC tersebuat akan di tahan oleh C1 dan kemudian ada R1 yang berfungsi sebagai umpan balik Positif. VU meter sebaiknya menggunakan VU meter dengan defleksi penuh 500 uA dengan hambatan dalam sebesar 2000 Ohm , Tapi jika ingin ber ekperimen dengan menggunakan VU meter yang spesifikasinya berbeda boleh boleh saja. Yang perlu di perhatikan yaitu cara menghitung RX harus benar . Contoh perhitungan RX seperti di bawah ini :

Arus defleksi penuh    = 500 uA
Hambatan dalam        = 2000 Ohm
Dari asal Rumus         =  V=I * R
Kepekaan alat ukur    = 2000 Ohm/ Volt.
Maka RX yaitu          = 0,9 * kepekaan alat ukur.
                                 = 0,9 * 2000
                                 = 1800 Ohm

Sehingga untuk mengukur tegangan maksimum :
1 Volt AC maka RX harus sebesar = 1800 Ohm ,
10 Volt AC maka RX harus sebesar = 18 Kohm.
100 Volt AC maka RX harus sebesar = 180 Kohm.
Dan seterusnya silahkan di hitung sendiri. Bagaimana jika ingin mengukur tegangan di bawah 1 Volt , misalnya tegangan maksimum 0,1 Volt AC , maka RX nya adalah 180 Ohm.

Untuk VR terhubung dengan kaki IC nomor 4, 1, dan 5 berguna untuk mengatur kedudukan jarum di angka Nol.

Daftar Komponen :

R1    = 100K
RX    = lihat penjelasan.
C1    = 0,1 uF
C2    = 250 pF
D1 – D5    =  1N4001.
VR     = 10 K
IC 1   =  741.
VU     = VU Meter
Sakelar Rotary.

Saturday, May 22, 2010

Universal Nicad Carger

Rangkaian di bawah ini berguna untuk mengisi baterai Nicad yang kita punya , rangkaian nya hanya sederhana saja dan biaya pembuatanya juga murah dan komponennya mudah  didapatkan . Dalam pengisian baterai yang diperlukan adalah arus yang konstan . Kenapa kita perlu arus yang konstan ? Jawab saja ini demi keamanan baterai atau akinya itu sendiri. Kita tidak dapat melihat dari luar bila baterai atau aki nicad sudah penuh , untungnya kita dapat menghitung kemampuan aki atau baterai yang dinyatakan dalam Ampere per jam ( Ah ) . Bilangan ini menyatakan berapa lama aki / baterai mampu mengeluarkan arus konstan tertentu . Kita misalkan Aki punya kapasitas 5 Ah , ini artinya ( secara teori ) bahwa aki ini selama 5 jam mampu mengeluarkan arus 1 Ampere , atau selama sepuluh jam tapi dengan arus ½  Ampere. Hasil kali ( A ) Arus dan ( h ) Waktu haruslah selalu 5 ( dalam contoh ini ) , dan dalam batas batas tertentu : arus pembuangan tidak dapat dengan seenaknya di naikkan kalau waktu di pendekkan ! . Untuk mengambil 5 Ah dari Aki (dalam contoh) maka sebelumya aki itu perlu menyimpan ;  apa yang berlaku bagi pembuangan belaku pula pada pengisian . Jadi dapat kita katakan : kalau mengisi aki 5 Ah selama 5 jam diperlukan arus 1 Amper  kalau sebelumnya aki benar benar kosong . Pada dasar nya ini memang benar namun pada nicad yang peka ini akan jauh lebih baik kalau kuat arus pengisian adalah sebesar seper sepuluh dari banyak nya Ah . Dalam contoh kita ini berarti ; mengisi aki / baterai dengan arus 500 mA selama paling tidak 10 jam ( dalam praktek nya diperlukan waktu 20 % lebih lama . Jadi waktunya kira kira 12 jam dan aki pun dapat di lepaskan dari pengisian . Ada yang bertanya Apakah arus pengisian itu tidak dengan sendirinya Konstan ? . Tidak ! . Semakin penuh Aki arus pengisian menjadi semakin kecil ini membuat waktu pengisian menjadi bertambah lama .

Dalam rangkaian ini kita akan dapatkan output arus yang berbeda beda yaitu : 22 mA , 50 mA, 100 mA , dan 500 mA . ini sudah mencukupi untuk berbagai jenis aki. Rangkaian ini dapat di gunakan untuk mengisi beberapa  aki / baterai  secara berderet asalkan tidak memerlukan waktu yang berlainan ( sebagai akibat dari besarnya arus buang yang telah di alami ) , misalnya aki yang berasal dari satu peralatan tidak akan menimbulkan masalah.

Apa yang terjadi dalam pengisian berlebih.

Pengisian berlebih dapat di sebabkan oleh beberapa hal :

1.    Waktu isi yang terlalu lama .
2.    Arus pengisian yang terlalu besar.

Untuk kemungkinan pertama kita tidak perlu cemaskan , selama arus pengisian tidak melebihi dari sepersepuluh dari kapasitas baterai. Jangan kawatir aki / baterai tidak akan bertambah penuh dan lebih penuh lagi , hal ini tidak mungkin terjadi , baterai / aki pun tidak akan menjadi rusak , paling paling sedikit panas.

Untuk kemungkinan kedua ini akan berakibat serius pada baterai / aki. Karena ada harga arus pengisian maksimum  yang tidak boleh di lewati yaitu adalah sepertiga dari bilangan Ah dari baterai / aki tersebut. Kalau hal ini terjadi maka dalam waktu sebentar saja akan timbul gas dalam aki / baterai yang diakibatkan oleh pembuangan muatan elektrolit dalam cairan sel . Gas ini keluar lewat pentil pengaman ( untung saja aki tidak  meledak ).  Dan akibatnya aki pun menjadi kering dan tidak dapat di gunakan lagi.



Daftar komponen :

R1 = 470 ohm ½ w
R2 = 150 ohm ½ w
R3 = 68 ohm ½ w
R4 = 12 ohm / 5w
C1 = 1000 uf / 40 v
C2, C3, C4 ,C5 = 330 nf
D1 = Penyearah .( 4 X 1N4001)
D2, D4, D6 , D8 = Led Merah
D3, D5, D7, D9  = 1N4001 
IC1 sd IC 4 =  7805 ( pakai heatsink )
T1 = TRAFO 18 V 1 amper
Fuse = 100 mA
Sw = Sakelar.
Output IC1 = 22 mA, IC2 = 50 mA, IC3 = 100 mA, IC4 = 500mA.

Sunday, March 14, 2010

Komunikasi Dengan Cahaya.

Cahaya adalah gelombang elekromagnet yang dapat kita lihat. Memang dengan definisi ini terlalu sederhana . Cahaya mempunyai pajang gelombang yang berbeda beda sebagai contoh : cahaya biru mempunyai pajang gelombang 370 nm sedangkan cahaya merah mempunyai pajang gelombang 740 nm atau persamaan nya adalah dengan frekuensi 400.000 GHz sampai 800.000 GHz . di atasnya lagi adalah daerah infra merah dan ultra ungu tetapi cahaya infra merah dan ultra ungu tidak dapat terlihat oleh mata manusia , sehingga definisi cahaya seperti di atas menjadi tidak cocok lagi .

Seperti halnya gelombang radio cahaya pun sebenarnya dapat di modulasi , kedua jenis gelombang itu adalah bersifat electromagnet dan pada dasarnya yang berbeda hanyalah pada frekuensinya saja . Pada hakekatnya untuk mendapatkan pemancar cahaya yang dimodulasi dengan cahaya kita hanya perlu memodulasi cahaya LED dalam irama perkataan yang ingin di kirimkan ( lihat Skema Transmiter  ) ,  pada transmiter harus di usahakan bahwa pemodulasinya adalah seratus persen . “ LED Pancar “ haruslah dikemudikan oleh irama perkataan secara sedemikian rupa agar beroperasi pada seluruh jangkahnya dari gelap hingga kecerahan maksimum , untuk keperluan itu tentu saja isyarat perkataan dari mikrofon perlu cukup di kuatkan , ini akan di kerjakan oleh IC 1 . penguatannya adalah setinggi  ( R3+R4 )/R3 = 10001 ,  LED D1 di atur dengan R5 pada arus cukup kuat sekitar 20 mA puncak arus akan mencapai 50 mA . Tapi karena IC 1 tidak sanggup menyuplai arus sebesar ini maka di tambahkan Q1 mikrofon dapat di gunakan sembarang type kecuali mikrofon karbon tapi sebenarnya yang paling cocok adalah mikrofon kristal sebab output teganganya tinggi sehingga rangkaiannya menjadi sangat peka . Untuk Earphone sebaiknya menggunakan yang berimpedansi tinggi . tapi jika tidak punya maka bisa saja di pasang amplifier dengan daya kecil  . Pada rangkaian Transmiter maupun Receiver LED adalah komponen yang terpenting gunakan LED warna merah dan tambahkan reflector supaya cahaya lebih kuat dan focus . Rangkaian experiment ini dapat menjakau beberapa meter dalam ruangan yang terang jangkauanya berkurang . Jangkauan lebih jauh akan dapat di capai dengan LED Infra merah .LED Infra merah ini biasanya di pakai untuk remote control . Jangkauan lebih jauh lagi akan dapat di capai dengan bantuan kaca pembesar atau cermin ( pada sisi yang cekung ; LED di arahkan pada cermin ). Dalam perakitan sebaiknya dibuat sependek mungkin hubungan antar komponennya hal ini di maksudkan untuk mencegah osilasi atau dengung . Catu daya juga harus di stabilkan dengan baik untuk menghindari dengung .

Gambar Skema transmiter.
Daftar komponen :

Transmiter :
R1,R2 = 470K
R3 = 1 K
R4 = 10 M
R5 = 220 Ohm
C1 = 2,2 nF
C2 = 56 nF
C3 = 4,7 uF/ 16 v
D1 = LED Merah ( pakai reflector )
Q1 = BC 140
IC 1 = LF 357

Gambar skema Receiver.

Receiver :
R1,R3 = 4,7 K
R2,R6 = 220 Ohm
R4 = 4,7 M
R5 = 470 Ohm
C1,C5 = 10 nF
C2 = 180 nF
C3 = 2,2 uF / 16 v
C4 = 4,7 uF / 16 v
D1 = LED merah ( pakai reflector ).
Q1 , Q2 = BC547
IC 1 = LF 357.

Sunday, February 21, 2010

Sakelar Tunda Serba Guna

Sakelar tunda merupakan rangkaian sakelar yang bekerja dengan menggunakan waktu tunda tertentu . Waktu tunda ini bisa di setel sesuai keinginan  misalnya 1 menit , 5 menit sampai 1 jam . Rangkaian sakelar tunda ini boleh di bilang serba guna dalam penggunaanya misalnya untuk memadamkan lampu , penerapan lainnya adalah sebanyak kemampuan fantasi kita .  tapi yang perlu diperhatikan adalah kemampuan pembebanan relay karena relay ini punya type berbeda dan kemampuan pembebanan maksimumnya juga beda. Sekarang mari kita perhatikan gambar skema rangkaianya di bawah ini :



Skema sakelar tunda serba guna
 Skema PSU


Rangkaian saklar tunda serba guna ini terdiri dari tiga blok yaitu : pencatu daya, pencacah, dan rangkaian logika. Catu daya menggunakan IC 7805 yang menghasilkan keluaran 5 Volt stabil dan satu lagi keluaran 12 Volt untuk mencatu Relay. Pencacah menggunakan sebuah IC 1 , dua resistor dan satu kondensator. R1 , R2 dan C5 untuk menentukan frequensi osilator yang sudah terintegrasi di dalam IC 1 . IC 1 dikemudikan dari masukan reset , kalau di sini ada logika “ 1 “ maka semua keluaranya adalah “ 0 “ dan pencacah dalam kondisi “ 0 “ . Jika isyarat di masukan reset menjadi “ 0 “ maka pencacah mulai bekerja . Penjelasan kerja IC 1 tidak perlu dijelaskan karena terlalu panjang .  Yang kita perlukan adalah bahwa dengan di tekannya satu tombol S1 pencacah mulai bekerja , bersamaan dengan itu harus ada relay yang di tarik dan menyalakan lampu dan relay ini harus jatuh kembali kalau keluaran pencacah yang terpilih sudah menjadi “ 1 “ . Pekerjaan rangkaian logika dilakukan oleh rangkaian flip flop yang di kerjakan oleh N2 dan N3 .  Jika kita ingin lampu tetap menyala secara terus menerus maka sakelar S2  di tutup . Titik TP di gunakan untuk pengujian saja waktu tundanya 3,5 detik.

Pesan terakhir setiap kali kita bekerja dengan jaringan listrik maka perlu di perhatikan peraturan yang berlaku , sebab kebanyakan Orang ( setengah “ Ahli “ ) meremehkan hal keamanan dalam pekerjaan itu . Sudah cukup banyak orang meninggal oleh kontak langsung dengan jaringan . Itu belum semua sering sering mendapat sentakan “ kecil “ akan juga menggangu kesehatan misalnya : sering merasakan nyeri di dalam dada . Untuk itu berhati hatilah…!


Daftar komponen :


R1, R2 = 470 K
R3,R5,R6 = 10 K
R4 = 1 M
C1, C2 = 10 nF
C3 = 470 uF / 16 v
C4 = 100nF
C5 = 470 nF
Q1 = BC 547B
D1 = 1N4148
IC1 = 4060
IC2 = N1- N3 = 4093.
IC3 = 78L05
S1 = Sakelar tekan satu kutub.

Sunday, January 10, 2010

Contact Tester

Setelah selesai merakit sebuah proyek elektronika maka yang terakhir adalah menyambungkan catu daya . namun tak di sangka proyek yang di buat dengan susah payah ternyata tidak ada tanda tanda kehidupan. Nah jika proyek elektronika  yang kita buat ternyata tidak berfungsi dengan semestinya maka penyebab yang umum adalah karena ada salah rakit , mungkin ada komponen yang salah taruh atau titian kawat yang terlupa.

Dengan menggunakan Contact Tester ini kita dapat menguji hubungan hubungan antara semua komponen satu dengan yang lainya , isyarat suara dari “ Contact Tester “ ini menandakan bahwa  hubungan adalah baik , jika tidak ada suara berarti tidak ada hubungan atau karena solderan yang mentah yang memiliki resistansi yang tinggi dan meyebabkan kesalahan dalam rangkaian . Jika “ Contact Tester “ ini di hubungkan antara dua titik di dalam rangkaian yang seharusnya tidak berhubungan namun kita mendengar ada isyarat itu artinya ada hubung singkat. 

Inti rangkaian kita kali ini menggunakan IC OP-amp 741 yang bekerja sebagai penguat selisih , artinya OP-amp hanya akan bereaksi atas selisih yang ada di antara masukan antara pena 2 dan pena 3 . Isyarat yang ada di antara kedua masukan sangat di kuatkan dan di keluarkan melalui pena 6 , jika pena uji tidak di hubungkan maka kedua terminal A dan B memiliki tegangan yang hampir sama besar , ini karena R1 dan R3 sama nilanya, karena ada R2 maka tegangan di titik A adalah lebih tinggi 2 mV daripada titik B.

Kalau kedua pena uji kita hubungkan maka R2 di jembatani , dengan potensio meter VR1 kita atur tegangan di masukan plus supaya ( kalau ada hubung singkat pada R2 ) ada sedikit lebih tinggi dari masukan min. Maka dalam hal ini keluaran IC 1 selalu tinggi . OP-amp bekerja sebagai berikut : Pena uji kita hubung singkatkan maka keluaran selalu memiliki tegangan positif , tegangan ini adalah kira kira setinggi tegangan catu , kalau kedua pena di hubungkan dengan resistor 1 Ohm atau lebih besar maka maka keluaran OP-amp menjadi NOL .

Selajutnya adalah isyarat akustiknya untuk keperluan ini ada osilator yang dibangun dengan N1, R7, VR2, C1 dan pendengung Piezzo Bz . Pendengun akan mencapai kuat bunyi yang maksimal kalau frekwensinya 4,6 kHz  , dengan menggunakan VR2 frekwensinya dapat di atur. Osilator di hidup matikan oleh isyarat keluaran dari OP-amp kalau isyarat keluaran “ 0 “ maka tidak ada suara , sebab pena 11 di N1 adalah “ 1 “ , osilator akan bekerja kalau keuaran IC 1 adalah “ 1 “ ( hubung singkat ) . Kondensator C1 secara berganti ganti di isi dan di buang muatanya yang menyebabkan timbulnya isyarat suara dari pendengung Piezzo .

Perakitan dan penyetelan :

Karena hanya sedikit komponennya pekerjaan merakit tidak akan sulit . pakailah soket untuk memasang IC catu daya hanya 9 V .  Tarulah pada posisi tengah tengah untuk VR1 dan VR2 , kemudian sambungkan bateray dan titik A dan B saling di hubungkan mungkin pendengung  sudah berbunyi , kuat bunyi di atur dengan VR2 kemudian lepaskan hubung singkat A dan B seharusnya pendengung sudah berhenti bersuara , tetapi jika pendengung masih tetap bersuara maka kita hentikan suaranya dengan memutar VR1 . Ukurlah tegangan di di titik A dan B dengan multitester harus kira kira 4,5 V.  Yang terpenting adalah gunakan pendengung sesuai type yang di anjurkan .




Daftar Komponen :

R1, R3 = 22 K
R2 = 10 Ohm
R4, R5, R7  =  1 K
R6 = 470 K
VR1 = 10 K
VR2 = 2,5 K
C1 = 100 nF
C2 = 10 uF /10 V
IC1 = 741 Op-amp
IC2 = 4093
N1 = ¼ IC2
BZ = Pendengung Piezzo PB2720.  

Friday, November 27, 2009

Indikator Reservoir Elektronik Sederhana

Rangkaian ini selain bisa di gunakan untuk indikator reservoir minyak rem bisa juga di gunakan untuk indikator reservoir air radiator atau untuk reservoir lainya. Sehingga kita akan mengetahui jika reservoir dalam keadaan kurang dengan ditandai nya lampu yang menyala dan suara dari buzzer.

Disini kita ambil contoh terapan untuk indikator miyak rem. Karena jika minyak rem sudah terlajur habis akan sangat berbahaya karena meyebabkan rem " blong " dan minyak rem yang sudah terlanjur habis ini tidak bisa langsung di isi, karena jika langsung di isi maka berarti akan ada udara yang masuk pipa saluran kontruksi rem dan biasanya orang awam meyebutnya dengan istilah “ masuk angin “ dan angin yang nyasar ke dalam pipa ini tidak bisa keluar dengan mudah. Kita tahu bahwa udara lebih gampang di kompresi dari pada minyak rem, sehingga udara yang masuk tadi akan membentuk gap ( jarak ) di saluran miyak dan berakibat meredam tekanan. Maka akibatnya rem menjadi tidak pakem , dan hal ini akan sangat membahayakan keselamatan pengendara. Untuk mengeluarkan udara dalam pipa reservoir membutuhkan peralatan, keahlian, dan prosedur tertentu.

Dengan ilustrasi di atas sudah jelas bahwa rangkaian Indikator Reservoir Elektronik Sederhana yang akan kita buat ini akan bermanfaat untuk memperingatkan kita jika reservoir miyak rem sudah pada batas level terendah dan kita harus segera mengisinya sehingga tidak “ masuk angin “ . Memang pada mobil keluaran sekarang sudah ada indikator seperti ini tetapi mobil keluaran lama tidak punya indikator miyak rem . Dan lagi rangkaian ini bisa diterapkan untuk keperluan yang lain. Tapi rangkaian ini tidak bisa di gunakan untuk cairan yang tidak menghantar listrik.

Ide rancanganya sederhana saja basis transistor BC 107 di hubungkan ke elektroda seperti pada gambar sehingga elektroda tadi selalu terendam cairan reservoir. Karena reservoir tadi selalu terhubung dengan chasis. Hal inilah yang dipakai sebagai kunci ON dan OFF nya dari transistor BC107 tadi . Jika elektroda tidak terendam cairan maka rangkaian akan aktif yang ditandai dengan lampu yang menyala dan buzzer yang bersuara.

Daftar komponen :

R1, R2 = 10M
R3 = 100K
R4 = 560 Ω
R5 = 3K3
R6 = 180 Ω
C1 = 100uF/16V
D1 = 1N4001
Q1, Q2, Q3 = BC107
Q4 = BC461
L = LAMPU 12V/2W
BZ = BUZZER

Saturday, November 21, 2009

Monitor Tegangan Accu

Rangkaian di bawah ini berfungsi untuk memonitor tegangan accu mobil walaupun bisa juga di gunakan untuk motor. Tegangan accu mobil yang melemah bisa di sebabkan oleh beberapa faktor misalnya : kelebihan beban yaitu terlalu banyak lampu variasi , ac, tape/ Radio dll. Bisa juga di sebabkan karena memang elemen nya sudah soak/ lemah.

Dengan menggunakan Monitor Tegangan Accu ini maka kita bisa selalu mengetahui kondisi tegangan accu, apakah tegangan dalam keadaan lebih , normal , atau kurang. Jangan sampai accu mobil sudah lemah teganganya dan tidak bisa di start, akhirnya.... anak , istri, kakek , dan tetangga ramai ramai di suruh olah raga dorong mobil. :)

Dengan di pasangnya rangkaian monitor tegangan ini hal itu bisa di hindari.

Rangkaian menggunakan 3 buah led warna merah, hijau, dan kuning. Jika led merah menyala menunjukan tegangan lebih, led hijau berarti tegangan normal, led kuning berarti tegangan kurang.

Ground ( - ) di hubungkan ke chasis ( + ) di hubungkan ke kontak sehinga peralatan ini hanya akan ON jika kendaraan sedang di gunakan saja.

Daftar komponen :

R1 = 100 Ω
R2, R5 = 10 K
R3 = 470 Ω
R4 = 680 Ω
C1 = 100 uF/25V
D1, D2 = 6,8V ZENER
D3 = LED MERAH
D4 = LED KUNING
D5 = LED HIJAU
D6 = 1N914
D7 = 11V ZENER
Q1, Q2 = BC549

Sunday, November 15, 2009

Membuat Megaphone Sendiri.

Peralatan yang satu ini memang hampir tidak tidak ada gunanya sama sekali di saat hari hari biasa tetapi peralatan ini akan sangat berguna pada saat kita ada kegiatan misalnya : kemping, berkemah, mendaki gunung, upacara, olah raga, atau sering kita lihat peralatan ini di gunakan para mahasiswa untuk berdemo , jadi jelasnya peralatan ini sangat di perlukan pada saat ada kegiatan “ Out Door “.

Nah.. pada kesempatan kali ini saya akan berikan rangkaian Megaphone yang jika di lihat sebenarnya sangat sederhana dan murah biaya pembuatanya dari pada membeli yang sudah jadi.

Rangkaian Megaphone ini sebenarnya sama seperti rangkaian Amplifier biasa dayanya juga tidak terlalu besar supaya tidak boros, karena Megaphone adalah peralatan yang sifatnya portable maka harus di catu menggunakan bateray tapi dalam keadaan tertentu bisa saja menggunakan aki sebagai catu dayanya. Untuk itu sebaiknya di sediakan konector atau jek untuk aki.

Rangkaian intinya menggunakan IC LM380 yang mempunyai spesifikasi : penguatanya sebesar 34 dB ( 50X ), Output 2,5 – 10W.


Kemudian untuk microphone nya sebaiknya menggunakan microphone type dynamic jangan menggunakan type kondensor karena jika menggunakan type kondensor biasanya akan feed back, untuk speaker sebaiknya menggunakan type Midrange yang modelnya seperti corong , kenapa harus menggunakan type midrange ? Karena memang telinga manusia lebih peka terhadap frekwensi tengah, lagi pula kita memang tidak membutuhkan suara bass dan treble yang berkualitas seperti saat kita mendengarkan suara sound system .

Dalam pembuatanya rangkaian , bateray dan microphone di masukan dalam satu kotak bisa menggunakan kotak walky talky , untuk speaker midrange di buat terpisah. Jika catu daya ingin menggunakan aki maka akan lebih ekonomis.


Daftar komponen :
R1 = 22K
R2 = 3K3
R3 = 8K2
R4 = 1K
R5 = 10K
R6 = 2K7
VR = 50 K
C1,C5 = 0,1 uF
C2 = 10 uF
C3 = 330 uF
C4 = 4,7 uF
C6 = 470 uF
Q1 = BC109
C7 = 1000 uF
IC1 = LM380
SW = Sakelar.

Saturday, November 7, 2009

Penguat Mikrofon Dengan AGC

Penguat mikrofon ini boleh di bilang punya keistimewaan yaitu menggunakan AGC ( Automatic Gain Control ) yang berfungsi untuk menjaga supaya level output tetap konstan dan jelas suaranya walaupun si pembicara ini berbicara dalam jarak yang jauh dari mikrofon atau sebaliknya si pembicara ini berbicara dalam jarak yang dekat dengan mikrofonya .

Rangkaianya cukup sederhana saja , murah biaya pembuatanya dan cocok di terapkan untuk modulator pemancar radio, pengeras suara umum, atau untuk karaoke . Penguat yang sebenarnya di kerjakan oleh transistor Q2 yang di rangkai sebagai common emitor, sinyal output di ambil dari kolektor dan sebagian sinyal output di umpankan melalui emitor follower Q3 ke penyearah puncak yang menggunakan DUS dan kapasitor 47 uF tegangan di kapasitor ini di gunakan sebagai pengontrol arus basis transisistor Q1 yang bekerja sebagai peredam input. Jika level input kecil maka tegangan di kapasitor juga kecil , maka transistor menarik arus juga sedikit jika level sinyal input besar maka tegangan kapasitor juga besar transistor pun menarik arus besar , sinyal input pun di redam jika sinyal input meningkat terus maka peredaman di bagian input semakin besar , sehingga sinyal output tetap konstan.

Rangkaian penguat Mikrofon dengan AGC ini menggunakan transistor TUN( Transistor Universal NPN) saya gunakan BC108 silahkan saja jika pingin di ganti dengan transisitor TUN seri lain nya begitu juga dengan DUS( Dioda Universal Silicon) silahkan jika mau di ganti dengan DUS seri lainya.


Daftar komponen :
R1,R7 = 10K
R2 = 100K
R3 = 27K
R4,R6 = 2K2
R5 = 1K
R8 = 680 Ohm
C1 = 10uF/16v
C2,C3,C4 = 47uF/16V
D1, D2 = DUS( Dioda Universal Silicon) 1N 4148
Q1,Q2,Q3 = TUN( Transistor Universal NPN) BC 108

Thursday, October 29, 2009

Tone Control Sederhana

Tone control merupakan rangkaian yang berfungsi untuk mengatur nada rendah dan nada tinggi atau biasanya di sebut bass dan treble. Sebelumnya sudah pernah diposting sebuah amplifier sederhana , postingan berikut ini merupakan rangkaian tone control sederhana yang terdiri dari 3 potensio meter , 4 resistor dan 7 capasitor. Hasilnya sudah cukup lumayan jika di gabungkan dengan amplifier sederhana yang sebelumnya sudah pernah di posting. VR 1 berfungsi sebagai Volume dan dilengkapi dengan sakelar Loudness. VR 2 sebagai pengatur nada Treble dan VR 3 sebagai pengatur nada Bass. Untuk lebih jelasnya silahkan perhatikan skemanya berikut ini :

Daftar komponen :
R1,R2 = 6K8
R3 = 680
R4 = 5K6
VR1 = 50K CT
VR2, VR3 = 50K
C1 = 4n7
C2 = 10nF
C3 = 4,7 uF
C4 = 2n2
C5 = 15 nF
C6 = 40 nF
C7 = 100 nF

Tuesday, October 20, 2009

Amplifier Sederhana Dengan IC LM 2002

Dengan mengunakan sebuah IC LM 2002 yang harganya cukup murah kita sudah dapat membuat Amplifier yang berkualitas dengan daya keluaran sebesar 8 Watt. IC LM 2002 mempuyai spesifikasi di antaranya rendah distorsi , rendah noise , impedansi masukan tinggi ( 150 K Ohm ), bekerja pada tegangan 5 – 20 Volt DC dengan arus Maximum 3,5 A. Skema Amplifier ini sangat sederhana dengan 1 buah IC LM 2002 di tambah 2 buah resistor dan 5 buah capasitor sudah menjadi sebuah amplifier yang berkualitas.

Gambar skema di buat satu kanal untuk membuat stereo tinggal di buat satu lagi , dan daya keluaranya pun bertambah menjadi 16 Watts.Tambahkan Tone Control untuk memperbaiki kualitas audionya. Jika tidak ingin pakai tone control bisa juga ditambahkan satu Potensio meter di bagian input sebagai pengatur Volume.



Daftar komponen:
R1 = 220 Ohm
R2 = 22 Ohm
C1 = 10 uF
C2 = 470 uF
C3 = 2 uF
C4 = 0,2 uF
C5 = 200 uF
IC = LM 2002.


Thursday, October 15, 2009

Skema Lampu Hemat Energi Philips 11 Watts

Lampu hemat energi atau biasa di sebut LHE adalah lampu neon yang sudah umum di gunakan saat ini. Ada beberapa kelebihan yang bisa di dapat yaitu lebih terang, mudah di nyalakan dan hemat listrik . Memang ada kekurangan dari lampu ini yaitu umurnya lebih pendek di bandingkan lampu neon jenis TL dari pengalaman memakai lampu LHE ini maksimal dapat bertahan selama 2 tahun , sedangkan lampu neon jenis TL bisa bertahan lebih dari 4 tahun.

Di bawah ini adalah skema lampu hemat energi dari Philips Ecotone 11 Watts.


Daftar Komponen :
R1 = 10 / 1 W
R2, R3 = 10
R4,R6 = 18
R5 = 510 K
R7 = 510 K
C1 = 2,2 uF / 400 V
C2 = 220 nF / 400V
C3, C4 = 2,2 uF / 50 V
C5 = 2,2 nF / 630 V
C6 = 3,3 nF / 1300V
C7 = 33 nF/ 400 v
D1, D2, D3 = 1N4007
Q1 , Q2 = DK51
L1, L5 = Trafo
L2, L3, L4 = Trafo

Semua resistor satuanya Ohm. Setiap merk lampu LHE mempunyai sekema yang berbeda dan kualitasnya juga berbeda.

Saturday, October 3, 2009

Membuat Crossover Active

Crossover Active berfungsi untuk memisahkan nada rendah dan nada tinggi pada audio sehingga akan dapat dihasilkan kualitas suara yang lebih baik. Di pasaran umumnya menggunakan Crossover Pasive yang pembuatanya menggunakan kumparan kawat email dan Capasitor, tapi ternyata Crossver Pasive jenis ini kualitasnya sangat buruk. Pada kesempatan kali ini akan saya tampilkan sebuah skema Crossover Active yang tentu saja mempunyai kualitas yang lebih baik dari pada Crossover Pasive, Skemanya sederhana saja dan dapat di buat dengan biaya murah dapat dirangkai pada PCB Universal yang gampang di dapat di pasaran.

Untuk pemasangan Crossover Active ini yaitu Output dari Crossover Active ini di hubungkan ke Power Amplifier dan setiap Amplifier ini akan menggerakkan Speaker Tweeter dan Woofer, posisinya dapat diletakan di antara Equalizer dan Amplifier, untuk lebih jelasnya lihat skemanya Crossover Active dan gambar blok diagram pemasanganya, pemasangan blog diagram ini tidak mutlak harus seperti pada gambar bisa saja Tone Control di hilangkan atau bisa juga di tambahkan Skema Surround Active seperti yang sudah pernah di posting sebelumnya, jadi silahkan di modifikasi sendiri untuk pemasangan blok diagramnya. Lihat Gambar skemanya di bawah ini :


Daftar Komponen:
R1,R4,R7,R8 = 220 K
R2 = 390 K
R3 = 2K2
R5, R10 = 100 K
R6 = 150 K
R9, R13 = 4K7
R11 = 3K3
R12 = 100K
C1 = 5 uF
C2, C3 = 330 pF
Q1, Q2, Q3 = BC109.

Monday, September 21, 2009

Frekwensi Meter dengan IC CA3140

Dari namanya sudah bisa di tebak bahwa alat ini berguna untuk menghitung jumlah frekwensi ( getaran ). Satuannya adalah Hertz dan di hitung setiap detik. Sebagai contoh sederhana manusia bisa mendengarkan suara dengan frekwensi antara 20 Hz sampai 20 KHz artinya bahwa telinga manusia itu hanya sanggup mendengarkan siklus getaran antara 20 getaran per detik sampai dengan 20.000 getaran per detik tidak lebih tidak kurang, tetapi ini justru merupakan anugerah yang luar biasa dari sang Maha Pencipta, coba saja kita bayangkan jika telinga manusia itu bisa mendengarkan frekwensi yang lebih tinggi dari 20 KHz, apa yang akan terjadi bisa bisa semua manusia stress karena telinganya bising dengan suara binatang malam, atau frekwensi radio , frekwensi Ultra sonic dan lain sebagainya.

Langsung saja kita lihat Skema Frekwensi meter berikut ini :


Rangkaian ini cukup sederhana saja dan mempunyai Range pengukuran Frekwensi antara 100 Hz sampai dengan 100 KHz, tentu saja range pengukuranya bisa di tambah atau di kurangi silahkan di modifikasi sendiri.

Rangkaian inti menggunakan IC CA3140 yang bisa di fungsikan sebagai Peak detector, active filter, generator fungsi dll, sanggup beroperasi pada tegangan antara 4V sampai 36V.

Setelah rangkaian selesai di buat maka perlu adanya peyetelan ( kalibrasi ) tentu saja untuk kalibrasi ini kita membutuhkan signal generator yang sudah mempunyai nilai, biasanya di laboratorium atau tukang service elektronika mempunyai alat ini.

Daftar komponen :
R1 = 100 K
R2 = 1 M
C1 = 1 uF
C2 = 0,1 uF
C3 = 0,01uF
C4 = 0,001 uF
C5 = 0,0001uF
D1, D2 = 1N914
VR1, VR2, VR3, VR4 = 50 K
IC1 = CA3140

Saturday, September 12, 2009

Inverter DC to AC dengan IC 4047

Inverter DC to AC adalah rangkaian yang dapat merubah arus listrik DC menjadi AC dalam hal ini arus DC 12 Volt menjadi AC 220 Volt. Pada postingan yang sebelumnya saya sudah berikan gambar skemanya, tetapi pada postingan sebelumnya itu masih ada kekuranganya yaitu daya yang dihasilkan hanya kecil dan frekwensinya tidak full stabil hal itu tergantung dari kapasitor 0,1 uF. Jika kapasitor itu tidak stabil nilanya maka frekwensi yang di hasilkan juga tidak stabil. Semestinya frekwensinya yaitu kira kira 50 Hz. Untuk mengetahui frekwensinya tentu saja harus di ukur dengan alat yaitu Frekwensi Meter.( Di lain kesempatan akan saya berikan skema Frekwensi Meter ).

Skema Inverter DC to AC yang berikut ini mempunyai daya yang lebih besar dan cocok untuk beban beban yang berat dan peka terhadap perubahan frekwensi listrik misalnya Komputer. Dalam skema ini dilengkapi dengan VR ( Variabel Resistor ) sehingga frekwensinya bisa di atur dengan VR itu. Sedangkan IC 4047 berfungsi sebagai Osilator.

Transistor 2N 3055 membutuhkan 6 transistor yaitu 3 untuk Q5 dan 3 lagi untuk Q6. ( pasang plat pendingin ).


Daftar Komponen :
R1, R2 = 470
R3, R4 = 0,5/5W
VR = 200 K
C1 = 0,1 uF
Q1, Q4 = BC 141
Q2, Q3 = BD 243
Q5 = 3 x 2N 3055
Q6 = 3 x 2N 3055
IC 1 = 4047
TRAFO = 12 V CT / 20 A

Sunday, September 6, 2009

Power Amplifier 1000 Watt

Power amplifier ini mempunyai daya hingga 1000 Watt, gambar ini di buat satu kanal saja jadi kalau ingin di buat stereo maka harus di buat satu lagi, sebenarnya power amplifier ini lebih cocok di gunakan untuk Sound System atau di gunakan untuk di luar ruangan misal: untuk pertunjukan musik, jadi jika hanya di gunakan untuk di dalam rumah saya kira kurang cocok, karena dengan daya sebesar ini kaca jendela rumah bisa bergetar dan pecah berantakan jika volume dalam keadaan full.


Mungkin anda pernah melihat atau bahkan punya speaker aktif dan di situ tertulis 1500 watt PMPO( Peak Music Power Output), jangan salah Power Amplifier ini berbeda dengan Speaker Aktif itu, saya sering membongkar Speaker Aktif seperti itu di dalamnya hanya sebuah power dengan daya tidak lebih dari 150 watt dengan menggunakan trafo 2-3 Ampere. PMPO bukanlah daya nyata yang di keluarkan oleh Power Amplifier, tetapi menghitung seluruh daya speaker yang ada, contoh: jika ada 5 buah speaker pada tiap kanal dan setiap speaker mempunyai daya 10 W maka PMPO nya adalah 100 W.

Sementara Power Amplifier 1000 Watt ini minimal menggunakan Trafo 20 Ampere. Dan Output dari Power Amplifier ini mengandung tegangan DC kurang lebih 63 volt , dengan arus dan tegangan yang sebesar ini , Power Amplifier 1000 Watt ini tidak akan segan segan untuk menghanguskan Speaker Woofer yang anda sambungkan. Untuk mengatasi itu maka sebelum speaker di sambungkan ke Power Amplifier 1000 Watt ini harus di pasang Speaker Protector.

Sebenarnya jika ingin membuat Power Amplifier dengan daya yang besar tidak harus membuat satu Power Amplifier dengan daya yang besar. Contoh : anda ingin membuat Power Amplifier dengan daya 10.000 Watt. Anda tidak harus merakit sebuah Power Amplifier dengan daya sebesar 10.000 Watt, tapi anda merakit Power Amplifier yang daya yang Kecil tapi banyak, misalnya anda merakit Power Amplifier dengan daya sebesar 1000 Watt sebanyak 10 buah, maka akan di hasilkan Power Amplifier berdaya 10.000 Watt.

Rangkaian menggunakan pasangan transistor power 5 x 2SA1216 dan 5 x 2SC2922 dan menggunakan differential Amplifier 2SC1583 yang sebenarnya berisi 2 buah transistor yang yang di kemas jadi satu. Kenapa menggunakan differental Amplifier seperti ini tujuanya supaya identik/sama , bisa saja menggunakan 2 buah transistor yang terpisah tapi bisa berakibat jadi tidak simetris nya amplifier.

Tips menggabung kelompok speaker.

Untuk mendapatkan speaker dengan daya yang besar dapat digunakan teknik menggabungkan seri paralel, menggabungkan kelompok speaker sebaiknya masing masing sepaker tsb mempunyai impedansi yang sama, type yang sama ( Woofer, Mid Range atau Tweeter) dan daya yang sama .Jumlah penggabungan speaker ini harus berjumlah 4, 9, 16 dst, lihat gambar


Contoh : Jumlah speaker ada 4 buah masing masing dayanya 200 Watt jadi akan di hasilkan daya speaker sebesar = 200 x 4 = 800 Watt. Jika ada 9 speaker 200 W maka hasilnya = 9 x 200 W = 1800 Watt.

Daftar komponen:
R1 = 2K2
R2 = 1K
R3 = 22K
R4 = 2K2
R5 = 470
R6 = 4K7
R7 = 22K
R8 = 150
R9 = 1K
R10 = 47K
R11,R12, R13 = 330
R12 = 52
R14, R17,R18,R19 = 52/2W
R15, R16 = 52/1W
R20, R21,R22,R23,R24,R25,R26,R27,R28,R29 = 0,1 5W
R30 = 10/5W.
VR = 100
C1 = 180 pF
C2,C3,C7 = 0,1 uF
C4 = 220 uF/ 25V
C5,C6 = 100 pF
C8,C9 = 1 nF
C10 = 10 nF
D1 = ZENER 4,7 V
D2,D3 = 1N4002
Q1 = 2SC1775
Q2 = 2SC1628
Q3 = 2SA818
Q4,Q5 = TIP31
Q6,Q8,Q10,Q12,Q14 = 2SA1216
Q7,Q9.Q11,Q13,Q15 = 2SC2922
N1 = 2SC1583

Friday, September 4, 2009

Membuat Lampu Tanda Bahaya

Lampu tanda bahaya ini sering kita jumpai di tempat tempat yang seperti ini misalnya: di tikungan jalan, kantor polisi, daerah rawan kecelakaan, pintu gerbang pabrik / proyek pembangunan yang sering ada keluar masuk kendaraan dll. Jadi fungsi dari lampu tanda bahaya ini adalah untuk memberi tanda agar pengguna jalan terutama pengemudi supaya berhati hati. Lampu tanda bahaya ini akan menyala dengan berkedip kedip dengan warna kuning, jika kita pernah atau sering pergi keluar kota pasti akan ketemu dengan lampu jenis ini di jalanan. Jika kebetulan rumah kita dekat dengan tikungan jalan atau berada daerah yang rawan kecelakaan maka tidak ada salahnya jika anda membuat sendiri lampu tanda bahaya berikut ini:


Penjelasan rangkaian:

Jika di perhatikan rangkaian ini hampir sama dengan peredup lampu penerangan hanya saja bedanya nilai capasitor C1 di perbesar yaitu 220 uF/400V. Irama hidup dan matinya lampu bisa di atur dengan VR1 dan VR2 sesuai selera.

Rangkaian menggunakan Diac dan Triac sebagai komponen utama .

Diac sebenarnya merupakan dua deretan Dioda Dioda dalam anti pararel, karena deretan dioda itu simetrik maka terminal terminal Diac tidak bernama, jadi cara memasang dalam rangkaian pun tidak perlu memperhatikan polaritas nya, Diac ini banyak di pakai untuk men triger Triac.

Triac singkatan dari Trioda AC Switch artinya adalah sakelar arus bolak balik yang mempunyai 3 elektroda. Triac sebenarnya berisi dua deretan dioda dan dua Thyristor yang anti pararel dan di lengkapi dengan elektroda Gate ( Gerbang / Pintu ) .

Daftar komponen :
R1 = 6K8
VR1 = 100K
VR2 = 1 K
C1 = 220 uF/400V
D1 = 1N4004
DIAC = ER900
TRIAC = BRY52-400 ( 400V/6A)

Friday, August 28, 2009

Rangkaian Elektronika Pompa Air Full Otomatis

Rangkaian pompa air yang full otomatis mungkin nama ini sangat cocok untuk proyek elekronika yang akan kita buat ini. Karena dengan menggunakan rangkaian ini maka kita tidak perlu lagi menyentuh tombol sakelar lagi seperti pada postingan saya yang sebelumnya . Sekarang perhatikan skema Rangkaian Elektronika Pompa Air Otomatis berikut ini :


Cara kerja :

Untuk mengetahui cara kerjanya kita misalkan Penampungan air dalam keadaan habis sehingga sensor batas terendah ( penyidik A dan B ) tidak berhubungan maka akan terjadi hal seperti ini arus mengalir dari dioda Emitor Basis Q1 , R2, dan R1. Q1 pun menghantar N1 yang bekerja sebagai gerbang NOT membalik masukanya yang berlogika 1 menjadi berlogika 0 pada keluaranya ( N1 pin 11). Flip Flop mendapat pulsa set dari N1 mengeluarkan logika 1 pada pena 4 dan Q3 yang bekerja sebagai Emitor folower memperbesar arus keluaran flip flop agar mampu menghidupkan relay . Relay pun bekerja mengaktifkan Pompa Air dan ketika penyidik A dan B sebagai sensor terendam terjadi hal seperti ini , terjadi pembagian tegangan R1 dan resistansi air antara penyidik A dan Penyidik B sehingga Q1 pun menyumbat .N1 membalik logika 0 yang berasal dari R3 menjadi logika 1 dan diberikan pada masukan set flip flop , perubahan logika dari 0 menjadi 1 pada masukan flip flop tidak mengubah keluaran flip flop sehingga pompa air tetap bekerja sampai mencapai batas sensor C . Ketika air menyentuh sensor C pembagian tegangan pada resistansi air antara A dan C dan R4 menghasilkan tegangan yang cukup tinggi dan mengaktifkan Q2. Masukan reset flip flop ( pena 1 )yang sekarang mendapat logika 0 menghasilkan keluaran logika 0 juga, selajutnya Q3 menyumbat relay tidak mendapat arus lagi sehingga pompa air pun berhenti.

Jika Air tidak menyentuh sensor C disebabkan karena pamakaian maka yang akan terjadi adalah Q2 kembali menyumbat dan masukan reset flip flop mendapat masukan logika 1 dari R6 . Flip flop sekarang dalam kondisi yang stabil dan siap di set oleh sensor batas terendah.

Dari urutan kerja tadi dapat kita simpulkan bahwa sensor akan memberi logika 0 pada masukan flip flop kalau air lebih rendah dari batas terendah ( masukan set ) atau menyentuh batas tertinggi( masukan reset ) jika air kurang dari batas terendah sensor batas terendah mengaktifkan pompa air sampai sensor batas tertinggi D1 menyala pada saat pompa tidak bekerja , D2 menyala pada saat pompa bekerja D3 ber fungsi untuk meredam induksi relay

Cara merakit :

Dalam perakitan tidak ada yang perlu mendapat perhatian khusus kecuali IC 1 yang cukup sensitif terhadap listrik static .

Pengujian :

Setelah selesai di rakit lakukan pengujian sebagai berikut :

  1. Aktifkan S1
  2. Periksa semua sensor dengan menggunakan tes pen pastikan tidak ada arus induksi dari jaringan, rendam sensor A, B dan C led hijau harus menyala tapi relay tidak bekerja.
  3. Angkat sensor C harusnya tidak ada perubahan apa apa , sekarang angkat sensor B led hijau padam , led merah menyala dan relay aktif.
  4. Rendam lagi sensor B harusnya tidak ada perubahan apa apa . sekarang rendam sensor C, led merah padam dan led hijau kembali menyala dan relay terlepas.
  5. Ulagi pengujian di atas berkali kali . Setelah yakin semua bekerja dengan baik rangkaian pun siap untuk di gunakan.

Daftar komponen :
R1 = 2,7 M
R2, R6, R7, R8 = 1K
R4 = 1M
R5 = 8,2 M
C1 = 100 NF
C2 = 2200 UF/25V
D1 = LED HIJAU
D2 = LED MERAH
D3 = 1N4001
Q1 = BC 516
Q2 = BC 517
Q3 = BD 139
IC1 = 4093 ( N1, N2 dan N3 )
IC2 = 7812
RELAY = 12 V
TRAFO = 12V/1A